LUCKY GIRLS MET ONE DIRECTION
' japan '
PART 10
@venacornelya
bitches @yoshesese @tivonn @rikangg @vellenw
enjoy ya :)
maaf gaje xx thx
...............................................
“Taylor.. nah tuh dia..” kata Harry sambil menunjuk ke arah pintu masuk….AW! jantungku kayak di tusuk-tusuk dan sudah berbolong 100 bolong! Harry kau kejam. Taylor sangat cantik… tentu saja dia lebih memilih aku dari taylor. 11/20 kok aku bandingin taylor.. huhuhuhu. Aku hanya menundukkan kepala dan berdoa supaya mendapat kekuatan hari ini.
“Hei Babe..” sapa taylor langsung mengecup bibir Harry. aku meliriknya dengan tatapan kosong.
“Hei..” balas Harry mengecup keningnya Taylor. Bitch please, kalau mau sok mesra mending gak usah didepan kami lagi. Ew banget !
2 jam aku menahan rasa cemburu,amarah, semua emosiku ku tahan di restoran keparat itu! Aku benar-benar sial di London. Mending pulang balek batam aja deh. Gak ada artinya aku di London.
“WOIIII!!!!” teriak Niall dengan lantang dan dengan reflek aku menghadap kebelakang. Kepalaku dan kepalanya bertabrakkan sangat kuat sehingga menimbulkan suara ‘BRUKKK!’
“Aww… vena! Jidat lo keras banget ! aduh, bentar lagi jadi saudaranya ikan Lohan ._.” kata Niall ngasal.
“salah siapa kejutin orang.” Jawabku singkat. Dia hanya menatapku dengan tatapan bingung.
Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarku. Yep, daboys sedang ada di rumah zayn not just da boys, pacar dan besties ku juga ada disini. Ada perrie juga… aku bener-bener dianggap pembantu di rumah ini!
“eitss.. mau kemana lo.?” Tanya Niall menarik lenganku dengan kuat. Aku menoleh dengan tatapan kesal.
“apa sih, gue mau tidur gk boleh? Tuh sono sama Erika aja kek napa? Ganggu orang melulu kerjanya!” ujarku kesal. Dia menatapku dengan muka idiotnya itu.
“gue sama lo aja deh,, lebih seru.” Katanya singkat lalu berjalan ke kamarku.
“Lo ngapain ke kamar gue?” tanya ku bingung.
“mau sama lo lah.” Jawab niall senyum jahil. Aku menatapnya dengan tatapn super horor.
“awas lo pegang gue , angin dari lo kalau kena gue, gue bacok lo niall.” Kataku sinis. Dia tidak menanggapi. Aku masuk ke kamarku yang super gede ini dan terbang ke kasur. Niall menutup pintu dan mengunci nya.
“NIALLL!! BUKA GAK!” teriakku histeris.
“Buka apa?” tanyanya idiot.
“pintunya! Kalau mereka berpikir macam macam gimana woii! Lo juga ngapain sih di kamar gue?!!!” tanyaku dengan suara ketakutan. Ii kalau niall ngapain ngapain gue gimana?
“gak ah, nanti mereka ganggu kita.” Jawabnya enteng. Ganggu ? kita? Apa sih yg dia bicarain?
“apa sih maksud lo!” tanya gue sambil menutup tubuh ku dengan selimut tebal ini. Dia berjalan ke arah ku aku. Bulu ku bergidik ngeri.
“Niall stop. Lo maju satu langkah, niall denger ya lo mati.” Kataku ngasal, tapi dia tidak menanggapi. Dia terus berjalan berjalan dan akhirnya dia didepan ku, duduk di kasur menatapku dengan muka idiotnya. Aku cepat-cepat melepaskan selimut dan turun dari kasur tapi tanganku ditahan niall dan aku terjatuh di kasur.
“niall! Sakit!” kataku.
“siapa suruh lo kabur. Orang gue disini cuman mau main sama lo!” ketus Niall. Aku hanya membentuk mulutku bulat.
“Mau main apa?” tanyaku bodoh. Dia menutup lampu kamar dan gelap sekali aku sampai tidak dapat melihat Niall.
“Sembunyi sembunyian..” jawabnya. “Gue cari lo ya…” katanya. Bulu kudukku merinding. Aku langsung berjalan dengan tanpa mengeluarkan suara. Bodoh banget deh aku! Napa juga mau main ini sama Niall. Huh ! aku berusaha melihat sekeliling ruangan dengan jelas.
“Vena…. Lo dimana….?” Goda Niall. Aku hanya bisa cekikikan. Tiba-tiba saat aku mau berjalan satu langkah ada yang memelukku dari belakang.
“Kenak lo! Haha lo kalah..” katanya tetap memelukku dan membuka lampu kamar. Dengan reflek aku menghadap ke dia. dia hanya memberikan senyum nya yang…. Ampunnn … dia membelai rambutku dan menaruhnya di belakang telinga ku. aku hanya bisa menatapnya dongo selayaknya ikan koi.
“Uda selesai belum acara ritual ikan koi nya?” tanya Niall tertawa, aku tersentak dan melepaskan pelukannya.
“gue kan uda bilang, gak boleh pegang gue! Sebagai penggantinya gue kasih lo hukuman..” kataku sembarangan.
“hukuman apa ?” tanyanya menyeringai. Aku berpikir keras hukuman apa yang akan kuberikan ke Niall… argh! Bodoh bukannya pikir dari pertama ! aku mendorongnya sehingga dia terjatuh ke kasur.
“Itu hukuman lo deh, gue masih baik kan.” Kataku bodoh, dan tersenyum miring. Aku mengulurkan tanganku agar dia bisa berdiri tapi dia malah menariknya dan aku jatuh di atasnya. Aku tersentak kaget. Aku melihatnya dengan kesal dia membalasnya dengan senyuman jahilnya.
“Lepasinn…” kataku berusaha lepas dari pelukan niall.
“gak boleh… udah , gue capek . lo temenin gue tidur.” Katanya, aku melongo bodoh. Apasih Niall! Menjengkelkan sekali deh.
“Yauda, lo tidur disini, gue disofa aja deh.” Kataku.
“Gakk. Gue butuh guling.” Katanya.
“tuh ada.” Kataku
“gue mau lo. Udadeh diem aja, kalau gak sampai lusa pelukan nih gak gue lepasin.” Ancamnya, aku hanya bisa diam dipelukannya yang kuat ini. Aku tidak bisa kemana-mana. Jujur, ini nyaman. Aku merasa nyaman sekali. Aku merasa aman.
***
Zayn’s POV
Mana Vena? Niall ? ugh! Apa yang mereka lakukan? Sebaiknya aku menyusul ke kamar Vena aja deh.
“Zayn, mau kemana lo?” tanya Louis.
“kamar Vena.” Jawabku singkat
“Eh kalo lo ke kamar vena, di kunci berarti dia sama niall lagi…….” Louis cekikikan , ak hanya melihatnya dengan kesal. Aku meninggalkan louis. Menuju kekamar Vena. Aku membuka gagang pintu tapi terkunci. Terkunci? Jangan-jangan…. Tidak Zayn! Positif thinking! Oh iya, aku ada kunci kamar vena, tapi ada dikamar ku dilantai atas. Malas deh. Aku mengambilnya dan menuruni tangga. Aku membuka kamar vena…
“Eh lo ngapa----wow.” Kata Louis terputus setelah melihat Vena dipelukan Niall. Mereka tertidur pulas.
“VENA!” teriakku emosi. Vena tersentak begitu juga dengan Niall. Niall tetap merangkul Vena meskipun mereka sudah terduduk.
“LO NGAPAIN? LO TAU LO NUMPANG DISNI?” tanyaku sinis. Vena menundukkan mukanya. Niall menatapku dengan muka dongo. Vena menangis? Niall menenangkannya. Louis menenangkan ku. untung yang lain gak ada disni.
“Uda bro.. mereka kan gak melakukan apa-apa.” Kata Louis bijak. Aku menarik tangannya Vena dengan kuat dan menyeretnya ke kamarku. Aku mengunci kamar, aku mendorong vena ke kasur. Dia tetap menangis.
“Lo jangan cengeng deh.” Kataku sinis.
“LO KETERLALUAN VENA!” bentakku.
“Lo bukan siapa siapa gue, lo gak berhak marahin gue! Gue bodoh ! seharusnya gue gak pernah bertemu lo dan menjadi pacar pura-pura lo!” bentak nya. Aku tersentak. Aku terdiam, dia benar. Aku bukan siapa-siapanya. Lagipula ngapain aku peduliin dia?
“Fine, kalo lo gak mau jadi pacar pura-pura gue. Kita end sampai disini saja.” Kataku singkat.
“zayn… “ panggilnya sambil terisak.
“Lo napa harus lakuin ini? Lo napa kasian sama gue?” tanyanya. Aku terkejut dengan pertanyaannya.
“Gue…. “
“sumpah zayn, tadi gue dikamar sama Niall gak ngapain-ngapain. Ciuman aja kaga.” Katanya. Seketika aku merasa sangat bersalah.
“Iya, gue tau… udah lah maafin gue. Lo masih mau jadi pacar pura-pura gue?” tanyaku , dia menganggukkan kepalanya. Aku tersenyum dan langsung memeluknya.
“Zayn?” gumam Vena.
“gue berhak dong, kan lo pacar pura-pura gue.” Jawabku.
“Udah lah, perrie marah ntar. Yuk keluar.” Ajaknya. Kami segera turun , aku kembali ke tempat perrie mereka. vena kembali ke bestiesnya.
Harry’s POV
Vena!! Gue bodoh banget sih! Bener kata zayn! Seharusnya gue tinggalin salah satu dan seharusnya gue tinggalin si Taylor! Sekarang uda telat, vena telah di rebut oleh zayn… regret
Wait.. zayn masih sama perrie kok. Lalu vena? Gue harus merebut vena kembali.
“Babe.. babee? Babe?!” suara Taylor melengking. Gue menatapnya dengan muka dongo.
“kamu mikirin siapa sih?!” tanyanya.
“vena.” Jawabku singkat.
“VENA?! ASIAN GIRL ITU? KAMU LEBIH MILIH DIA?!” tanyanya mengamuk.
“KITA PUTUS HARRY!” kata taylor langsung keluar dari taman dan pergi meninggalkanku.dasar cewek mentel, gitu aja ngambek. Huh! Gue langsung mencari vena. Dimana dia? pasti sama bestiesnya.
Nah tuh vena! Sedang tertawa bersama bestiesnya.
“Hai.,.” sapaku kemereka.
“hai juga.” jawab mereka. terkecuali vena. Dia sama sekali tidak menatapku.
“boleh pinjam venanya gak?” tanyaku bercanda,
“boleh boleh ambil aja , gak udah dikembalikan.” Kata yoshe. Wwkkwk
“apaan sih yoshe ini jahat!” gerutu Vena. Mereka semua tertawa.gue memegang tangannya vena dan membawanya jauh dari mereka.
“apa ?” tanya tajam.
“vena, gue… mau minta maaf.” Jawabku
“selesai?” tanyanya sinis. Dan beranjak pergi,gue menahan tangannya. dia menoleh dengan kesal.
“besok… um kami akan ke jepang.lo mau ikut? “ tanyaku.
“asalkan bestiesku ikut.” Katanya.
“okayy..”
***
Vena’s POV
ASIK WOHOOO!!! PERGI KE JAPAN? BARENG BESTIES? WOAAAAAAH !!!
“Asik! Kita ke japan vellen!” kataku senang.
“Berkat lo juga pun.” Jawabnya langsung membantu membereskan bajuku. Yep, aku dan vellen beda 4 bulan saja.dia lebih tua, Tapi dia sangat bersifat dewasa, sedangkan aku? Huh! Tinggi kami aja berbeda 1 jengkal. Tentu dia lebih tinggi dan cantik dari aku. Aku sama sekali tidak mengerti fashion, tapi apa boleh buat. HAHAHAHA
Setelah beres-beres kami capcus ke bandara, menunggu daboys datang. Ajaibnya lagi tidak ada paparazzi.
“Hey!” teriak seseorang, zayn.
Aku menoleh dan tersenyum. Kami cepat-cepat berjalan ke arah pesawat sebelum di kerubungi sama paparazzi.
Saat dipesawat. Aku duduk sendiri dulu tapi tiba-tiba zayn niall dan harry duduk disampingku. Tidak bisakah sehari saja aku merasa bebas dari mereka? ugggh! Menyebalkan..
Aku menoleh mereka dengan kesal dan berdiri. Aku duduk disamping liam dan louis. Rasanya sangat damai…. Hanya semenit aja. Louis mengerjai ku! dia memang jail.
“Gue tersiksa disini.” Gumamku pelan. Liam mendengarnya dan tersenyum.
“welcome to my world.” Katanya aku hanya tertawa lepas. Setidaknya bukan hanya aku aja yang tersiksa, aku ada teman… Liam.
to be continued
saran kritik comment jangan lupa yaa xx thx :)
sumpah aku baca ceritaku sendiri pun bisa merinding, alis mata naik turun. gaje ya? sorry-sorry :P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar